Jumat, 25 Desember 2020

Wanita Tua yang Aku Sayangi

     Nenekku bernama Siti Fatimah Zuhra. Lahir pada tanggal 11 november 1943. Berasal dari Putussibau, kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Nenekku memiliki darah Melayu yang merupakan keturunan dari ayah dan ibunya. Ia memiliki 10 anak, 3 laki-laki dan 7 perempuan. Akan tetapi 2 anak perempuan yang pertama, bukan anak kandungnya. Melainkan anak dari istri kakekku sebelumnya. Namun, tetap saja nenekku menyayangi mereka seperti anaknya sendiri. Dan ia memiliki cucu yang lumayan banyak, 12 cucu perempuan dan 8 cucu laki-laki. Ia juga sudah mempunyai 3 orang cicit, yang masih kecil.

 Nenekku memiliki kulit yang keriput dan matanya yang sudah tidak dapat melihat dengan jelas. Ia memiliki postur tubuh yang sedang, tidak tinggi dan tidak pendek. Jika berjalan ia sangat berhati-hati dan tak lupa genggaman eratnya pada tongkat.  Karena tubuhnya yang tidak kuat seperti dulu, hal itulah yang mengharuskannya membawa tongkat jika ingin berjalan. Ia seringkali memakai turban rajut untuk menutupi kepalanya yang sudah dipenuhi rambut putih, hal itulah yang menjadi ciri khasnya dirumah.

    Sifatnya yang lemah lembut dan penyayang, membuat semua orang sangat menyayangi dan menghormatinya. Ia tidak pernah pilih kasih dalam kehidupan sehari-hari. Terkadang ia selalu bermain bersama cucu-cucunya. Hal itu yang menggambarkan betapa ramahnya ia terhadap keluarganya. Jika ada masalah, nenek selalu menghadapinya dengan kesabaran. Tak pernah Ia tunjukkan amarahnya pada anak cucunya. Kesabaran yang sering Ia tunjukkan menjadi contoh bagi kami. Bahwa tidak semua masalah harus diselesaikan dengan amarah.

    Nenek bagaikan pelindung bagiku. Hanya ia yang mau membelaku disaat orang lain menyalahkanku. Karena itulah aku sangat menyayanginya. Kehidupannya yang sangat teratur, terkadang membuatku iri. Di usianya yang sudah lansia, ia masih bisa bergerak dengan aktif dan melakukan sesuatu yang mungkin di usianya sudah tidak seharusnya dilakukan.

    Di masa tuanya, nenek banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Terkadang Ia bermain bersama cucu dan cicitnya. Banyak hal yang kami lakukan bersama. Misalnya, menonton tv, makan bersama dan banyak lainnya. Hal yang paling berkesan saat kumpul keluarga adalah momen bersama nenek.

    Pada saat bulan Ramadhan, dimalam hari suara lantunan ayat suci Al-qur’an sering terdengar dirumah. Tepatnya di kamar nenek. Hari-harinya menghabiskan waktu dengan hal-hal yang baik dan bermanfaat. Tak jarang kadang aku malu dengan diri sendiri yang sadar jika masih muda, tapi tak pernah melakukan banyak hal baik. Dibandingkan dengan nenek yang sudak lansia, namun tetap berusaha melakukan hal yang baik tanpa keluh kesah sedikitpun.  Ketika kami ingin menunaikan sholat tarawih, nenek mengikuti cucu-cucunya berjalan kaki dari rumah ke masjid. Masjid pun tak jauh dari rumah. Diperjalanan Ia selalu mengajak cucu-cucunya berbicara, tentang hal-hal yang dilakukan seharian ini. Sehingga saat diperjalanan kami tidak merasakan kecanggungan.

    Nenek sering mengajarkanku bagaimana bersikap baik kepada orang lain dan bagaimana menghargai orang lain. Ia mendidik anak cucunya dengan baik. Tak lupa Ia sering mengingatkan tentang agama kepada keluarganya. Nenek pernah berkata “percuma hidup enak, kalau kita tidak pernah mau meningkatkan ibadah kepada Allah”. Bagaikan amanah, kata-kata tersebut selalu kuingat dan kuterapkan dikehidupanku.

    Nenek tidak pernah lupa denganku. Dulu, disaat aku mengikuti bimbel dimalam hari nenek selalu menungguku pulang dan memasak makanan kesukaanku. Itu yang membuat nenek lebih spesial dari kedua orang tuaku. Bahkan aku lebih memilih tidur bersama nenekku dibandingkan dengan orang tuaku. Nenek selalu memperhatikanku dengan baik, disaat aku luka Ia selalu ada untuk mengobatiku. Ketika nenek sakit, ia selalu berusaha terlihat baik-baik saja. Dan mengganggap sakitnya hanyalah hal yang biasa.

    Suasana lebaran sangat indah ketika bersama nenek. Kehidupan dikeluarga bagaikan bercahaya dengan kehadirannya. Hanya Ia yang bisa membuat anak-anaknya yang jauh merantau, pulang kembali ke kampung halaman. Nenek selalu menghangatkan suasana dikeluarga kami. Disaat anak cucunya belum makan, ia selalu memberikan perhatiannya kepada kami. Kasih sayangnya yang tidak pernah luntur untuk kami. Hal itulah yang membuat kami sangat mencintai dan menyayanginya.

Nenek pernah tiba-tiba terjatuh karena kakinya yang sakit. Dan kakinya tidak terasa. Saat diperiksa ternyata nenek terkena stroke ringan. Terasa berbeda melihat perempuan lansia yang selama ini selalu terlihat sehat, namun sekarang harus duduk di kursi roda. Kemana-mana nenek harus menggunakan kursi roda, karena kakinya yang tidak bisa berjalan.

    Setelah menjalani pengobatan selama kurang lebih 3 bulan, akhirnya nenek bisa berjalan. Akan tetapi, ia menggunakan tongkat untuk pegangan saat berjalan. Dikarenakan kakinya yang belum sembuh total. Setidaknya kebahagiaan terukir diwajahnya, itu yang membuat kami bahagia.

    Di masa tuanya berbagai penyakit mulai datang. Dan seperti saat nenek terkena penyakit kelenjar getah bening. Pada awalnya penyakit tersebut tidak menimbulkan tanda-tanda. Ia hanya mrasa ada yang aneh dengan rahang sebelah kanannya. Awalnya tidak ada benjolan besar atau apapun, tapi lama kelamaan timbul benjolan yang semakin hari semakin membesar. Nenek pun kemudian menjalani pengobatan di klinik terdekat. Dan saat diperiksa, benjolannya terlihat tidak serius dan hanya benjolan biasa. Karena saat di pegang dan ditekan pada bagian benjolan itu tidak terasa sakit sedikitpun.

    Beberapa minggu kemudian, benjolan tersebut mulai mengecil. Karena efek dari pengobatan sebelumnya. Kebahagiaan mulai terpancar diwajahnya. Setiap hari ia bertanya apakah benjolan tersebut sudah mengecil atau makin membesar. Tapi atas izin Allah dan usaha pengobatan, benjolan tersebut mulai mengecil.

Hal yang kurang baik terjadi beberapa minggu kemudian. Benjolan dirahang yang sebelumnya sudah mengecil, mulai membesar kembali. Rasa khawatir dan takut mulai menyelimuti dirinya dan keluarga. Tapi ia tidak pernah berputus asa dan pasrah dengan keadaannya. Begitupun keluarga kami. Saat itu, nenek langsung dibawa ke Pontianak untuk melakukan pengobatan yang lebih baik.

    Setelah menghabiskan pengobatan di Pontianak, ternyata hasilnya benjolan tersebut merupakan tumor yang ada di rahangnya. Benjolan tersebut ukurannya masih sama besar, sama seperti pertama kali nenek berangkat untuk pengobatan di Pontianak. Dan pada akhirnya, kami sekelarga memutuskan untuk membawa nenek ke rumah sakit di Kuching, Malaysia. Disana nenek menjalani pengobatan di salah satu rumah sakit. Tak jarang keluargaku yang menemani nenek menjalani pengobatan, mengirim foto-foto nenek dalam menjalani proses pengobatannya. Aku selalu berdoa untuk kesembuhan malaikatku.

Waktu pengobatan telah habis, nenek diberikan obat oleh dokter dan sudah menjalani terapi. Namun, saat ia pulang terasa berbeda. Dulu tubuh yang sehat dan terlihat segar, senyum yang selalu hidup, itulah yang ada pada dirinya. Tapi sekarang sudah berbeda. Nenek menjadi kurus dan wajahnya yang terlihat sayu. Dan karena pengaruh obat diusianya yang sudah lansia, ia kurang kuat dalam mengingat hal-hal tentang kehidupannya. Bahkan ia sampai lupa dengan wajah-wajah anak cucunya.

    Tapi tak berlangsung lama, kesehatannya mulai membaik. Kebahagiaan menyelimuti keluarga kami. Akan tetapi, nenek selalu mengeluarkan lendir dari mulutnya. Seperti dahak tapi tidak juga sama persis, mungkin lebih seperti air ludah. Tapi tak jarang juga terdapat darah didalamnya.  Aku pun terkadang membantunya untuk membersihkan mulutnya menggunakan tisu, agar bersih. Semakin hari benjolan tersebut mulai berubah warna. Yang awalnya seperti warna kulit biasa, lama kelamaan menjadi biru keungu-unguan. Kami sangat khawatir dengan keadaannya, tapi nenek selalu berusaha terlihat baik didepan kami. Selalu kami beri kata-kata positif untuk menyemangatinya.

    Pada tanggal 26 oktober 2016. Suasana tenang dirumah terasa beda, mungkin karena nenek sudah terlelap enelusuri mimpinya malam ini. Sebelum pergi keluar rumah aku selalu berpamitan dnegannya, bahkan ketika nenek sedang tidur, aku akan berbicara pelan dan pasti nenek tidak mendengarkan suaraku.

    Saat masuk ke rumah, suasana sepi menyambutku. Ternyata nenek masih berada di alam mimpinya. Suara dengkuran yang biasa terdengar saat nenek tidur, sekarang tidak terdengar. Aku terkejut kenapa nenek bisa tidur sepulas itu, berbeda dari biasanya. Tak lama ketika ia sedang tertidur, aku mendengar suara tarikan nafas.  Aku membelakangi nenek yang sedang tidur. Ketika aku berbalik tidak ada yang aneh, namun firasatku tidak baik. Saat aku keluar dari kamar nenek, ibuku bertanya “nenek masih tidur?” akupun mengangguk.

    Ibuku memasuki kamar nenek. Dan membangunkannya dengan pelan, karena sudah waktunya minum obat. Tetapi, saat dibangunkan nenek sama sekali tidak ada perubahan. Ia tetap terlelap dengan nyenyak menelusuri mimpinya. Kami mulai cemas dan takut. Pamanku langsung memeriksa keadaan nenek. Dan bagaikan petir di siang bolong, apa yang aku takutkan selama ini terjadi. Pantas saja nenek tidak bangun, Ia sudah menelusuri dunia mimpinya yang lebih indah dari dunia. Aku tidak bisa berkata-kata lagi, manusia yang paling aku sayangi dan manusia yang paling menyayangiku pada hari itu, meninggal tepat didepan mataku. Tapi aku bersyukur karena Allah mengambil nenekku dalam keadaan yang baik, ketika ia tidur.

    Wanita yang sudah berkulit keriput, yang selalu menemaniku dalam keadaan apapun. Nenekku, tidak akan pernah ku lupakan. Kebaikan-kebaikannya yang selalu Ia ajarkan kepada kami tidak pernah kami lupakan dan selalu kami ingat. Beristirahatlah nenekku yang baik di tempat yang baik. Semoga kelak kita bisa bertemu di tempat yang baik.


Wanita Tua yang Aku Sayangi

       Nenekku bernama Siti Fatimah Zuhra. Lahir pada tanggal 11 november 1943. Berasal dari Putussibau, kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan B...