Nenekku bernama Siti Fatimah Zuhra. Lahir pada tanggal 11 november 1943. Berasal dari Putussibau, kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Nenekku memiliki darah Melayu yang merupakan keturunan dari ayah dan ibunya. Ia memiliki 10 anak, 3 laki-laki dan 7 perempuan. Akan tetapi 2 anak perempuan yang pertama, bukan anak kandungnya. Melainkan anak dari istri kakekku sebelumnya. Namun, tetap saja nenekku menyayangi mereka seperti anaknya sendiri. Dan ia memiliki cucu yang lumayan banyak, 12 cucu perempuan dan 8 cucu laki-laki. Ia juga sudah mempunyai 3 orang cicit, yang masih kecil.
Nenekku memiliki
kulit yang keriput dan matanya yang sudah tidak dapat melihat dengan jelas. Ia
memiliki postur tubuh yang sedang, tidak tinggi dan tidak pendek. Jika berjalan
ia sangat berhati-hati dan tak lupa genggaman eratnya pada tongkat. Karena tubuhnya yang tidak kuat seperti dulu,
hal itulah yang mengharuskannya membawa tongkat jika ingin berjalan. Ia
seringkali memakai turban rajut untuk menutupi kepalanya yang sudah dipenuhi
rambut putih, hal itulah yang menjadi ciri khasnya dirumah.
Sifatnya yang lemah lembut dan penyayang, membuat semua
orang sangat menyayangi dan menghormatinya. Ia tidak pernah pilih kasih dalam
kehidupan sehari-hari. Terkadang ia selalu bermain bersama cucu-cucunya. Hal
itu yang menggambarkan betapa ramahnya ia terhadap keluarganya. Jika ada
masalah, nenek selalu menghadapinya dengan kesabaran. Tak pernah Ia tunjukkan
amarahnya pada anak cucunya. Kesabaran yang sering Ia tunjukkan menjadi contoh
bagi kami. Bahwa tidak semua masalah harus diselesaikan dengan amarah.
Nenek bagaikan pelindung bagiku. Hanya ia yang mau membelaku
disaat orang lain menyalahkanku. Karena itulah aku sangat menyayanginya.
Kehidupannya yang sangat teratur, terkadang membuatku iri. Di usianya yang
sudah lansia, ia masih bisa bergerak dengan aktif dan melakukan sesuatu yang
mungkin di usianya sudah tidak seharusnya dilakukan.
Di masa tuanya, nenek banyak menghabiskan waktu bersama
keluarga. Terkadang Ia bermain bersama cucu dan cicitnya. Banyak hal yang kami
lakukan bersama. Misalnya, menonton tv, makan bersama dan banyak lainnya. Hal
yang paling berkesan saat kumpul keluarga adalah momen bersama nenek.
Pada saat bulan Ramadhan, dimalam hari suara lantunan ayat
suci Al-qur’an sering terdengar dirumah. Tepatnya di kamar nenek. Hari-harinya
menghabiskan waktu dengan hal-hal yang baik dan bermanfaat. Tak jarang kadang
aku malu dengan diri sendiri yang sadar jika masih muda, tapi tak pernah
melakukan banyak hal baik. Dibandingkan dengan nenek yang sudak lansia, namun
tetap berusaha melakukan hal yang baik tanpa keluh kesah sedikitpun. Ketika kami ingin menunaikan sholat tarawih,
nenek mengikuti cucu-cucunya berjalan kaki dari rumah ke masjid. Masjid pun tak
jauh dari rumah. Diperjalanan Ia selalu mengajak cucu-cucunya berbicara,
tentang hal-hal yang dilakukan seharian ini. Sehingga saat diperjalanan kami
tidak merasakan kecanggungan.
Nenek sering mengajarkanku bagaimana bersikap baik kepada
orang lain dan bagaimana menghargai orang lain. Ia mendidik anak cucunya dengan
baik. Tak lupa Ia sering mengingatkan tentang agama kepada keluarganya. Nenek
pernah berkata “percuma hidup enak, kalau kita tidak pernah mau meningkatkan
ibadah kepada Allah”. Bagaikan amanah, kata-kata tersebut selalu kuingat dan
kuterapkan dikehidupanku.
Nenek tidak pernah lupa denganku. Dulu, disaat aku mengikuti
bimbel dimalam hari nenek selalu menungguku pulang dan memasak makanan
kesukaanku. Itu yang membuat nenek lebih spesial dari kedua orang tuaku. Bahkan
aku lebih memilih tidur bersama nenekku dibandingkan dengan orang tuaku. Nenek
selalu memperhatikanku dengan baik, disaat aku luka Ia selalu ada untuk
mengobatiku. Ketika nenek sakit, ia selalu berusaha terlihat baik-baik saja. Dan
mengganggap sakitnya hanyalah hal yang biasa.
Suasana lebaran sangat indah ketika bersama nenek. Kehidupan
dikeluarga bagaikan bercahaya dengan kehadirannya. Hanya Ia yang bisa membuat
anak-anaknya yang jauh merantau, pulang kembali ke kampung halaman. Nenek selalu
menghangatkan suasana dikeluarga kami. Disaat anak cucunya belum makan, ia
selalu memberikan perhatiannya kepada kami. Kasih sayangnya yang tidak pernah
luntur untuk kami. Hal itulah yang membuat kami sangat mencintai dan menyayanginya.
Nenek pernah tiba-tiba terjatuh karena kakinya yang sakit. Dan
kakinya tidak terasa. Saat diperiksa ternyata nenek terkena stroke ringan. Terasa
berbeda melihat perempuan lansia yang selama ini selalu terlihat sehat, namun
sekarang harus duduk di kursi roda. Kemana-mana nenek harus menggunakan kursi
roda, karena kakinya yang tidak bisa berjalan.
Setelah menjalani pengobatan selama kurang lebih 3 bulan,
akhirnya nenek bisa berjalan. Akan tetapi, ia menggunakan tongkat untuk
pegangan saat berjalan. Dikarenakan kakinya yang belum sembuh total. Setidaknya
kebahagiaan terukir diwajahnya, itu yang membuat kami bahagia.
Di masa tuanya berbagai penyakit mulai datang. Dan seperti
saat nenek terkena penyakit kelenjar getah bening. Pada awalnya penyakit
tersebut tidak menimbulkan tanda-tanda. Ia hanya mrasa ada yang aneh dengan
rahang sebelah kanannya. Awalnya tidak ada benjolan besar atau apapun, tapi
lama kelamaan timbul benjolan yang semakin hari semakin membesar. Nenek pun
kemudian menjalani pengobatan di klinik terdekat. Dan saat diperiksa,
benjolannya terlihat tidak serius dan hanya benjolan biasa. Karena saat di
pegang dan ditekan pada bagian benjolan itu tidak terasa sakit sedikitpun.
Beberapa minggu kemudian, benjolan tersebut mulai mengecil.
Karena efek dari pengobatan sebelumnya. Kebahagiaan mulai terpancar diwajahnya.
Setiap hari ia bertanya apakah benjolan tersebut sudah mengecil atau makin
membesar. Tapi atas izin Allah dan usaha pengobatan, benjolan tersebut mulai
mengecil.
Hal yang kurang baik terjadi beberapa minggu kemudian.
Benjolan dirahang yang sebelumnya sudah mengecil, mulai membesar kembali. Rasa
khawatir dan takut mulai menyelimuti dirinya dan keluarga. Tapi ia tidak pernah
berputus asa dan pasrah dengan keadaannya. Begitupun keluarga kami. Saat itu,
nenek langsung dibawa ke Pontianak untuk melakukan pengobatan yang lebih baik.
Setelah menghabiskan pengobatan di Pontianak, ternyata
hasilnya benjolan tersebut merupakan tumor yang ada di rahangnya. Benjolan tersebut
ukurannya masih sama besar, sama seperti pertama kali nenek berangkat untuk
pengobatan di Pontianak. Dan pada akhirnya, kami sekelarga memutuskan untuk
membawa nenek ke rumah sakit di Kuching, Malaysia. Disana nenek menjalani
pengobatan di salah satu rumah sakit. Tak jarang keluargaku yang menemani nenek
menjalani pengobatan, mengirim foto-foto nenek dalam menjalani proses
pengobatannya. Aku selalu berdoa untuk kesembuhan malaikatku.
Waktu pengobatan telah habis, nenek diberikan obat oleh
dokter dan sudah menjalani terapi. Namun, saat ia pulang terasa berbeda. Dulu tubuh
yang sehat dan terlihat segar, senyum yang selalu hidup, itulah yang ada pada
dirinya. Tapi sekarang sudah berbeda. Nenek menjadi kurus dan wajahnya yang
terlihat sayu. Dan karena pengaruh obat diusianya yang sudah lansia, ia kurang
kuat dalam mengingat hal-hal tentang kehidupannya. Bahkan ia sampai lupa dengan
wajah-wajah anak cucunya.
Tapi tak berlangsung lama, kesehatannya mulai membaik. Kebahagiaan
menyelimuti keluarga kami. Akan tetapi, nenek selalu mengeluarkan lendir dari
mulutnya. Seperti dahak tapi tidak juga sama persis, mungkin lebih seperti air ludah.
Tapi tak jarang juga terdapat darah didalamnya. Aku pun terkadang membantunya untuk
membersihkan mulutnya menggunakan tisu, agar bersih. Semakin hari benjolan
tersebut mulai berubah warna. Yang awalnya seperti warna kulit biasa, lama
kelamaan menjadi biru keungu-unguan. Kami sangat khawatir dengan keadaannya,
tapi nenek selalu berusaha terlihat baik didepan kami. Selalu kami beri
kata-kata positif untuk menyemangatinya.
Pada tanggal 26 oktober 2016. Suasana tenang dirumah terasa
beda, mungkin karena nenek sudah terlelap enelusuri mimpinya malam ini. Sebelum
pergi keluar rumah aku selalu berpamitan dnegannya, bahkan ketika nenek sedang
tidur, aku akan berbicara pelan dan pasti nenek tidak mendengarkan suaraku.
Saat masuk ke rumah, suasana sepi menyambutku. Ternyata nenek
masih berada di alam mimpinya. Suara dengkuran yang biasa terdengar saat nenek
tidur, sekarang tidak terdengar. Aku terkejut kenapa nenek bisa tidur sepulas
itu, berbeda dari biasanya. Tak lama ketika ia sedang tertidur, aku mendengar
suara tarikan nafas. Aku membelakangi
nenek yang sedang tidur. Ketika aku berbalik tidak ada yang aneh, namun
firasatku tidak baik. Saat aku keluar dari kamar nenek, ibuku bertanya “nenek
masih tidur?” akupun mengangguk.
Ibuku memasuki kamar nenek. Dan membangunkannya dengan pelan,
karena sudah waktunya minum obat. Tetapi, saat dibangunkan nenek sama sekali
tidak ada perubahan. Ia tetap terlelap dengan nyenyak menelusuri mimpinya. Kami
mulai cemas dan takut. Pamanku langsung memeriksa keadaan nenek. Dan bagaikan
petir di siang bolong, apa yang aku takutkan selama ini terjadi. Pantas saja
nenek tidak bangun, Ia sudah menelusuri dunia mimpinya yang lebih indah dari
dunia. Aku tidak bisa berkata-kata lagi, manusia yang paling aku sayangi dan
manusia yang paling menyayangiku pada hari itu, meninggal tepat didepan mataku.
Tapi aku bersyukur karena Allah mengambil nenekku dalam keadaan yang baik, ketika
ia tidur.
Wanita yang sudah berkulit keriput, yang selalu menemaniku
dalam keadaan apapun. Nenekku, tidak akan pernah ku lupakan. Kebaikan-kebaikannya
yang selalu Ia ajarkan kepada kami tidak pernah kami lupakan dan selalu kami
ingat. Beristirahatlah nenekku yang baik di tempat yang baik. Semoga kelak kita
bisa bertemu di tempat yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar